Tips Umroh Bersama Si Baby

Umroh bersama keluarga tentunya menjadi impian semua orang. Tapi bagaimana kalau salah satu anggota keluarganya masih infant alias masih bayi.

Ini menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagi saya dan istri. Umroh membawa serta sang baby mungkin bagi sebagian orang berpendapat akan sangat repot, yang ada ibadahnya ga fokus. Menurut saya, pendapat seperti ini adalah orang yang tidak berprasangka baik sama Allah, kita kuatkan niat saja bahwasanya semuanya akan mudah. Dan benar saja, ALHAMDULILLAH si baby tetap ceria, ibadah tetap fokus.

Ada beberapa hal yang saya dan istri lakukan ketika membawa sang baby untuk umroh.

Yang pertama justru persiapan jauh sebelum berangkat ke tanah suci. Ketika berangkat umroh si baby usianya baru sekitar 10.5 bulan. Tapi semenjak usia 5 bulan kita sudah coba ajak keluar kota untuk melatih fisik baik saya sama istri maupun si baby. Jadi saya sama istri bisa tahu kondisi si baby kalau diluar gampang tidur atau ga, atau hal yang lainnya.

Yang kedua, pahami betul pola tidur si baby.
Anak saya terbiasa tidur ketika jam 6 malam, atau waktu maghrib. Ketika dia melihat langit sudah gelap biasanya dia sudah kasih kode minta tidur sama Ummi nya. Alhamdulillah selama perjalanan dari tanah air, anak saya hanya sekali “rewel” karena ngantuk. Itu pun dikarenakan perbedaan waktu yang belum pernah ia alami. Ada perbedaan waktu yang menyebabkan waktu siang lebih lama pada saat perjalanan KUL-Jeddah, kalau ikuti waktu jakarta sudah waktunya tidur, tapi di pesawat dia melihat langit masih cerah. Alhasil dia bingung dengan kondisi seperti itu. Alhamdulillah, di ayun-ayun sama ummi nya pakai kain, ga lama dia tidur, padahal saat itu kondisi pesawat lagi pumping banget karena cuacanya kurang bagus. Lumayan ngocok perut 😷.

Yang ketiga. Bawa popok yang biasa digunakan dari tanah air, takutnya kalau beli disana kurang cocok dengan kulit baby yang super sensitif.
Ini yang lumayan bikin penuh koper sih, selain bajunya si baby tentunya 😅. Soalnya popok inikan terbilang ringan, tapi lumayan makan tempat. Kemarin kita stok dari tanah air bawa 60 pcs untuk 12 hari perjalanan. Alhamdulillah pas. Bravo buat Ummi nya 👏.

Yang keempat. Bawa perlengkapan masak si baby. Kalau perlu bawa beras dan sayuran mentahnya dari tanah air. Setidaknya sampai ketemu yang jualan bahannya ketika disana.
Ini penting banget buat baby yang makanannya belum kaya orang dewasa. Kemarin kita bawa slow cooker khusus untuk masak makanan si baby. Tinggal colok, tinggal ke masjid atau istirahat, makanan siap disantap si baby. Baby kenyang, ibadah lancar 😁.

Yang kelima. Siapkan fisik ekstra ketika menjalankan ibadah umrohnya. Karena selain kondisi di Masjidil Harom yang ramai, si baby juga belum bisa jalan sendiri. Jadi mau ga mau kita gendong. Kalau kita kemarin bawa gendongan model kangguru. Memakai gendongan ketika ihrom diperbolehkan kok. Jadi lumayan memperingan pas prosesi tawaf dan sa’i.

Yang keenam. Atur waktu dengan istri untuk waktu-waktu ibadah tertentu.
Misalnya kaya sholat dan berdoa di Raudhah. Untuk wanita kan ga ada 24 jam dibuka. Jadi ketika istri mau ke Raudhah, tugas saya deh main sama si baby. Kalau pria mah insya Allah banyak waktu ibadahnya, karena si baby kan nyari Ummi nya untuk minum asi hampir setiap jam. Jadi kesepakatan saja sama istri, kapan istri mau lebih fokus untuk beribadah.

Yang ketujuh. Berbahagialah.
Karena orang timur tengah itu kalau ada anak kecil seneng banget, selalu bilang “Masya Allah”. Anak kita jadi sering didoain. Dan juga sering dikasih cemilan. Berkah deh 😁.

Dan yang gak kalah penting. Anak dibawah 2 tahun itu kalau naik pesawat belum bayar full, jadi bisa HEMAT banyak 😁.

Begitu kira-kira catatan perjalan umroh saya bersama si baby. 😊

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*